10 Nama Pahlawan Indonesia yang Diabadikan Menjadi Nama Jalan

10 Nama Pahlawan Indonesia yang Diabadikan Menjadi Nama Jalan

Pahlawan-pahlawan yang sangat berjasa di Indonesia banyak yang diabadikan namanya ataupun cerita hidupnya yang dijadikan film. Di kota-kota besar yang ada di Indonesia, ada beberapa jalan yang nama jalannya diambil dari nama-nama para pahlawan. Baik pahlawan laki-laki maupun perempuan, kira-kira nama pahlawan siapa saja yang diabadikan. Smiles ingin membagikan 10 nama-nama pahlawan Indonesia yang terkenal juga sebagai nama jalan-jalan yang tersebar di seluruh nusantara.

Artikel berhubungan: Sejarah Dibentuknya BPUPKI atau 独立準備調査会 (Dokuritsu Junbi Chosakai) 

Daftar Isi

RA Kartini

Raden Adjeng Kartini, atau yang biasa kita kenal dengan RA Kartini adalah pahlawan Indonesia yang bisa dibilang paling dikenal hingga saat ini. Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879. Kartini adalah sosok yang mulai menggerakkan emansipasi wanita, yaitu memperjuangkan kesetaraan wanita dan pria. Karena perjuangannya ini, warga Indonesia selalu merayakan hari Kartini setiap tahunnya tepat di tanggal kelahiran RA Kartini. Surat-surat yang ditulis oleh Kartini dibukukan menjadi dengan judul yang sangat terkenal yaitu “Habis Gelap Terbitlah Terang”. RA Kartini meninggal dunia di umurnya yang baru 25 tahun, di tahun 1904, beberapa hari setelah beliau melahirkan anaknya. Jalan Kartini bisa ditemukan di kota Jakarta, Cirebon, Depok, Bandung, Lampung dan Surabaya.

RA Kartini

Cut Meutia

Tjoet Njak Moetia atau Cut Meutia adalah pahlawan perempuan berasal dari Aceh. Cut Meutia adalah salah satu dari banyak pahlawan yang berperang melawan Belanda saat penjajahan. Dengan hanya bersenjata sebilah rencong dan pedang, ia selalu berada di paling depan untuk memimpin pasukannya. Tanggal 24 Oktober 1910, Cut Meutia telah berada dalam posisi terkepung oleh tentara Belanda. Namun, ia tetap berjuang dan tidak mau menyerahkan diri, sampai pada akhirnya gugur akibat tembakan peluru tentara Belanda. Jalan Cut Meutia juga bisa ditemukan di berbagai tempat, seperti kota Jakarta dan Bekasi.

Cut Nyak Meutia

Dewi Sartika

Sama halnya dengan RA Kartini, Dewi Sartika adalah pejuang emansipasi wanita dari Indonesia. Ia lahir di Cicalengka pada 4 Desember 1884. Dewi Sartika menunjukkan ketertarikannya terhadap pendidikan sejak kecil, sampai pada akhirnya mendirikan sekolah khusus perempuan yang dinamakan Sekolah Isteri pada tahun 1904.Setelah mendirikan sekolah-sekolah, beliau juga mendirikan Organisasi Keutamaan Isteri yang bertujuan untuk menaungi sekolah-sekolah yang telah didirikan di Tasikmalaya pada tahun 1913. Jalan Dewi sartika bisa ditemukan di Jakarta, Depok, Bandung, dan lainnya.

Raden Dewi Sartika

Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien lahir dari keluarga bangsawan pada 1848 di Lampadang, Kerajaan Aceh. Karena suaminya yang meninggal dunia pada 1878, Cut Nyak Dien memulai ikut perang melawan Belanda pada 1880. Pada tahun 1899, Ia memimpin pasukan Indonesia untuk berperang, tetapi karena kondisinya yang semakin melemah, Ia akhirnya tertangkap oleh Belanda. Setelah tertangkap, Ia sempat mendapatkan perawatan di Aceh hingga akhirnya dipindahkan ke Sumedang. Pada 1908 Cut Nyak Dien meninggal karena umurnya yang sudah tua. Jalan Cut Nyak Dien dapat ditemukan di Tangerang, Riau, Aceh, dan lainnya.

Cut Nyak Dien

Rasuna Said

Hajjah Rangkayo Rasuna Said lahir di  Maninjau, Agam, Sumatera Barat pada 14 September 1910. Rasuna Said sangatlah memperhatikan kemajuan dan pendidikan kaum wanita. Ia juga terjun ke dunia politik dan dikenal ahli dalam berpidato. Tetapi karena pidatonya pada tahun 1930 yang menyinggung Belanda, ia ditangkap oleh para aparat Belanda di tahun 1932. Setelah keluar dari penjara, ia meneruskan karirnya dengan menjadi pemimpin redaksi majalah. Ia meninggal di tahun 1965 karena kanker darah. Jalan Rasuna Said adalah jalan yang terkenal di Jakarta, dan bisa juga ditemukan di Padang.

rasuna said

Jenderal Sudirman

Jenderal Sudirman lahir di Purbalingga, Jawa Tengah pada 24 Januari 1916. Ia adalah pahlawan revolusi nasional Indonesia yang merupakan Panglima dan Jenderal RI yang pertama dan termuda. Ia terkenal sebagai pejuang yang sangat gigih membela negara di tengah-tengah penyakit paru-paru yang sedang dialaminya. Akhirnya Jenderal Sudirman meninggal dunia di tahun 1950 karena sakit tuberkolosisnya. Jalan Jenderal Sudirman bisa ditemukan di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, dan Surabaya.

Jenderal Sudirman

Jenderal Ahmad Yani

Jenderal Ahmad Yani lahir di Jenar, Purworejo pada 19 Juni 1922. Ahmad Yani terkenal sebagai tentara yang bertentangan dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) yang menyebabkan ia menjadi sosok utama target dari peristiwa G30S. Pada 1 Oktober, Ahmad Yani menjadi salah satu korban penculikan G30S, ia menolak untuk ikut pada saat penjemputan yang menyebabkan ia menjadi korban tembak di depan kamar tidur dalam rumahnya. Jalan Jenderal Ahmad Yani bisa kamu temui di kota-kota besar seperti Banjarmasin, Banyuwangi, Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bogor, Bandung dan Manado.

Ahmad Yani

Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol terlahir dengan nama Muhammad Shahab di Bonjol, 1772. Imam Bonjol terkenal sebagai pribadi yang sopan. Nama beliau tidak bisa lepas dari Perang Paderi, yaitu saat beliau memimpin perang tersebut. Ia wafat pada masa pengasingannya tanggal 6 November 1864. Jalan Imam Bonjol terdapat di Jakarta, Padang, Medan, Semarang, Denpasar, dan Solo.

tuanku imam bondjol

Jenderal Gatot Subroto

Jenderal Gatot Subroto lahir di Banyumas pada 10 Oktober 1909. Gatot Subroto dikenal sebagai tentara yang solider terhadap rakyat kecil meskipun bekerja sebagai tentara berkependudukan Belanda dan Jepang. Berkat perilakunya, ia menjadi tentara yang dianggap patut menjadi contoh seorang pemimpin yang layak untuk di apresiasi. Ia meninggal dunia pada 11 Juni 1962 di Jakarta. Selain di Jakarta, jalan dengan nama Jenderal Gatot Subroto bisa ditemukan di kota Bandung, Pekanbaru, Makassar, dan Malang.

Jenderal Gatot Subroto

Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro lahir di Jogyakarta pada 11 November 1785. Pada tahun 1825-1830, Diponegoro memimpin Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur di perang yang sangat besar, hampir meruntuhkan kekuasaan imperialis Belanda di Indonesia. Belanda melakukan berbagai cara untuk menangkap Pangeran Diponegoro, sampai pada akhirnya berhasil menangkap pada 1830. Diponegoro dibawa menuju Manado dan kembali di pindahkan ke Makassar, dan akhirnya meninggal di Makassar pada tahun 1855. Jalan Pangeran Diponegoro bisa ditemukan di Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Aceh Blitar dan Lampung.

Pangeran Diponegoro

Bagaimana sobat Smiles apakah ada pahlawan Indonesia lainnya yang belum disebut di 10 nama-nama diatas? Apakah ada pahlawan Indonesia dari tempat asal sobat Smiles? Semoga artikel kali ini membantu dan sampai bertemu di artikel berikutnya ya!

Tags:

Share this post

Facebook
LinkedIn
Twitter
Pinterest
Email